Browse By

Bagaimana Mengajarkan Anak-anak Tentang Ular ?

Memperkenalkan kehidupan liar (wildlife) sejak usia dini adalah salah satu aktivitas yang sangat baik bagi tumbuh kembang mereka. Aktivitas ini juga tentu saja akan membenamkan dan menumbuhkan pemahaman yang baik dan benar sejak dini agar mereka tetap menjaga keseimbangan alam. Ular sebagai salah satu kunci dari rantai makanan dalam ekosistem, berperan penting dalam keseimbangan alam. Hanya saja karena ketidaktahuan masyarakat, ular kerap dibunuh karena dianggap berbahaya, menganggu, dan berkaitan dengan dunia mistis. Celakanya, ketakutan akan ular yang disebabkan oleh salah persepsi ini terus menerus diturunkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

Adams (1986) menjelaskan bahwa edukasi kehidupan liar sebagai “proses belajar mengajar yang memperkenalkan informasi spesifik mengenai sumberdaya, habitat, hubungan ekologi, konservasi, dan manajemen strategi kepada sekolah public dan program edukasi masyarakat.” Agar lebih bernilai lagi, proses edukasi juga harus memberikan perubahan yang signifikan terhadap pengetahuan,sikap, dan pemahaman dari peserta didiknya. (Kellert, 1989; Sherwood, 1989)

Tujuan Umum

Untuk mengubah persepsi para pelajar terhadap ular, dari yang tadinya salah satu predator menakutkan yang tidak berakal menjadi mengenal dan menerima ular sebagai salah satu bagian dari sebuah ekosistem alami. Para pelajar menjadi mengerti bahwa, berdarah dingin atau panas, makhluk hidup berhak dihormati dan dihargai, baik sebagai individu, dimanapun mereka ditemukan, dan juga sebagai salah satu anggota spesies yang penting dalam memelihara keterjagaan ekosistem.

Tujuan Khusus

Pada saat ular hidup digunakan dalam sebuah tatanan edukasi (educational setting), pembelajaran akan menyentuh sisi kognitif dan afektif. Hal ini akan memberikan kesempatan yang begitu baik dan cepat untuk tumbuh kembang anak dan remaja. Selain fakta tentang ular, klasifikasi, prilaku dan ekologi, para pelajar akan mulai untuk melihat bagaimana fungsi hewan sebagai anggota dari suatu ekosistem.

Pertumbuhan personal dan interpersonal terjadi karena pelajar akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengatasi dan menahan rasa takutnya untuk berhadapan dengan hewan, bahkan menyentuhnya! Hal ini akan membentuk kepercayaan diri (self-confidence) dan Penghargaan Diri (Self-Esteem) yang diperkuat oleh pengakuan orang lain atas prestasinya dan bahwa dia telah menangani suatu masalah dengan baik. Kerjasama dan berbagi pada saat berinteraksi dengan ular adalah salah satu ketrampilan yang sangat penting dipelajari oleh anak usia sekolah. Para pelajar remaja dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan melalui : bekerja dengan orang lain, mengawasi adik kelasnya dan berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa dalam belajar dan mengajar tentang ular.

Metode

Mengenalkan ular kepada anak-anak akan menjadi hal yang cukup menantang, selain karena kepolosan mereka, keingintahuan mereka terhadap banyak hal terkadang akan membuat mereka bertanya hal-hal yang diluar dugaan. Ada baiknya sebelum memberikan edukasi tentang ular, kita mencari literatur terlebih dahulu sebanyak-banyaknya tentang ular, dan bertanya kepada beberapa orang yang ahli dibidangnya.

Bagi anak-anak mendengarkan hal yang baru dan diajak untuk terlibat dalam setiap pembicaraan kita sebagai edukator, akan sangat menarik. Jadi sebisa mungkin berikan penjelasan dengan cara yang interaktif dan tidak membosankan. Ada metode yang biasa saya gunakan untuk memberikan edukasi tentang ular kepada anak-anak, yang saya sebut SIP (Sudah tahu, Ingin tahu, Pelajari).

(S) Sudah Tahu
Tanyakan kepada mereka apa yang mereka sudah tahu tentang ular, tentang matanya, lidahnya, bisanya, tentang tempat tinggal ular, ada berapa jenis ular yang mereka tahu, dan lain-lain. Hal ini akan membantu anda untuk masuk ke dalam dunia mereka.
Bahas sedikit saja tentang apa yang mereka sudah tau, kalau ada yang masih belum tepat pemahamannya, maka kita bisa meluruskan dengan bercerita fakta sebenarnya tanpa harus menyalahkannya.

(I) Ingin Tahu
Apa yang mereka ingin tahu tentang ular. Keingintahuan mereka yang tinggi pasti akan mendorong mereka untuk bertanya tentang apa saja yang berkaitan dengan ular. Maka dari itu, kita harus siap dengan berbagai referensi tentang ular. Dan bersiaplah dengan pertanyaan-pertanyaan yang ajaib 😀
Jawablah pertanyaan-pertanyaan mereka dengan bahasa yang sederhana, dengan analogi yang dapat dicerna oleh mereka. Boleh saja menggunakan istilah istilah biologi, tapi berikan mereka juga definisi dan perumpamaan yang tepat dan sederhana. Misalnya, habitat : tempat tinggal

(P) Pelajari
Setelah memberikan pengetahuan tentang ular kepada mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ingin tahu. Review kembali apa yang sudah dipelajari oleh mereka. Apa yang mereka tadinya tidak tahu, sekarang mereka sudah tau.
Dengan Metode SIP ini kita bisa mengukur proses edukasi ini dari dua sisi, yaitu sisi edukator dan juga sisi peserta didik. Dari sisi edukator kita bisa mengevaluasi sejauh mana kita memberikan pemahaman yang benar dan baik kepada mereka. Sedangkan dari sisi peserta didik kita bisa mengukur sejauh mana tingkat pemahaman mereka, keterlibatan mereka dalam proses edukasi ini, dan tingkat keingintahuan mereka terhadap ular.

Seleksi dan Penggunaan Ular Hidup

Penggunaan ular hidup mungkin telah menjadi perdebatan bagi berbagai kalangan, terutama yang bergerak dibidang pendidikan dan juga konservasi tentunya. Penggunaan spesimen hidup pada edukasi publik memang seringkali menjadi perdebatan, bukan hanya ular atau reptil saja, namun juga pada satwa lainnya. Penggunaan ular, bagaimanapun juga memungkinkan perubahan paradigma yang negatif terhadap ular di masyarakat umum.

Salah satu tujuan edukasi tentang ular adalah bukan hanya untuk mengajarkan tentang ular itu saja, tetapi juga bagaimana mereka hidup dilingkungannya, termasuk kamuflase mereka jika berhadapan dengan predator atau justru mangsanya. Jika ular ini adalah ular asli daerah mereka, maka ini akan memudahkan identifikasi jika mereka menemukan ular ini di halaman rumahnya, atau di alam terbuka. Sehingga sebaiknya untuk kepentingan ini kita menggunakan ular yang dalam bentuk aslinya dan karakter aslinya (bukan hasil persilangan dan budidaya oleh manusia).

Di sisi lain untuk kepentingan disentuh dan pegang oleh peserta didik, ular yang digunakan sebaiknya ular peliharaan (terdomestikasi), yang terbiasa berinteraksi dengan manusia (jinak total). Untuk ular-ular yang tidak jinak atau berbahaya masih memungkinkan untuk dibawa sebagai bahan pengetahuan mereka mengenai ular, tetapi harus dipastikan ular-ular itu aman dan tidak membahayakan buat peserta, misalnya dengan menggunakan terarium (display box).

Ular yang digunakan sebagai media edukasi haruslah ular yang sehat, dan tidak cacat. Takutnya ada salah persepsi jika kita membawa ular yang tidak sehat dan cacat, bahwa edukator yang tidak bisa menghargai mereka, padahal kita sedang mempromosikan untuk menghargai ular sebagai makhluk hidup.

Penggunaan ular hidup tentu saja harus didampingi oleh ahlinya atau pemiliknya jika itu adalah ular peliharaan. Edukator yang juga ahli dalam bidang ular / pemilik memungkinkan untuk menangani sendiri ular-ular yang dibawa sebagai media edukasi. Edukator harus memiliki kemampuan juga untuk memutuskan dengan cepat kapan waktunya menyelesaikan interaksi peserta didik dengan ular. Dengan bahasa yang sangat simpel misalnya : „wahh, kayaknya ularnya udah capek neh .. kalo adik-adik capek biasanya ngapain?.. nah ularnya istirahat dulu yahh ..“

Seorang edukator harus bekerja bersama ular, bukan mendominasi ular; audiens harus belajar dari edukator bagaimana memperlakukan ular dengan baik, bukan takut. Audiens akan belajar bagaimana memegang ular dengan melihat bagaimana edukator memegang dan berinteraksi dengan ular. Ketika edukator dan ular sangat nyaman berinteraksi satu sama lain, maka ini akan membuat para peserta untuk relax ketika nanti, banyak yang untuk pertama kalinya, menyentuh dan memegang ular.

Fokus Edukasi

Proses edukasi kepada anak-anak usia 6–10 tahun harus difokuskan pada pengembagan afektif, menekankan pada emosi dan simpati kepada hewan. Anak-anak usia 10–13 tahun, dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi, sudah siap untuk menerima pemahaman factual tentang hewan dan lingkungannya. Sedangkan siswa sekolah menengah, lebih ke arah ekologis, naturalistis dan moralistik pada sikapnya, dan dapat menerima hal-hal yang lebih kompleks. Kellert (1985) menemukan bahwa kelompok-kelompok diatas lebih tertarik pada kontak langsung dengan kehidupan liar dan rekreasi di alam terbuka. Meningkatnya kemampuan mereka dalam hal yang abstrak seperti keanekaragaman hayati dan ekosistem, dibarengi dengan pengetahuan yang luas tentang hewan dan lingkungannya, sangat mendukung kemampuan mereka untuk lebih mendalami dan memahami banyak hal.

Resiko Kesehatan

Mamalia, burung dan juga reptil mereka semua memiliki potensi untuk menyebarkan patogen. Hewan yang sehat akan dapat mengatasinya dengan mengandalkan kekebalan tubuhnya (imunitas), tetapi hewan yang stres, baik secara psikologi maupun lingkungannya mereka akan lebih mudah terserang dan menularkan penyakit. Maka dari itu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan sebaiknya ular yang dibawa adalah ular yang sehat, dan dibersihkan sebelum digunakan sebagai media edukasi. Bersihkan juga peralatan lain yang berhubungan dengan ular, sepertai kandang, hook, sarung tangan. Selain itu selalu biasakan memberikan instruksi kepada para peserta didik untuk mencuci tangan setelah mereka memegang ular.

Menghadapi ketakutan akan ular

Kebanyakan orang takut dengan ular, bisa karena pengalaman buruknya di masa lalu, atau menyangka bahwa semua ular berbisa, atau bahkan karena diturunkan oleh orang tuanya yang juga takut sama ular. Biasanya, orang yang mengaku takut terhadap ular akan dicemooh, digoda dan diganggu, bahkan ditakut-takuti oleh yang lain. Kebiasaan ini harus dihentikan, dan seorang edukator bisa mengatakan „wajar kok kalo kamu takut, kakak juga dulu takut … “. sampai di poin ini, biasanya kita akan melihat bahwa mereka lebih relax dan siap untuk menerima penjelasan dari kita dan tidak defensif.

Mereka harus perlahan-lahan diberi pengetian tentang ular. Dan tidak jarang , walaupun mereka mengaku takut diawal, karena melihat teman-temannya yang lain berinteraksi dengan ular, mereka akan mencoba menyentuh ular. Ketika mereka berhasil mengalahkan ketakutan mereka, apresiasi mereka dengan memberitahu kepada teman-temannya, berikan tepuk tangan, atau beri hadiah.

Seorang edukator tidak boleh memaksa peserta didiknya untuk menyentuh ular, akan tetapi gunakan pendekatan yang lebih persuasif dan tidak tergesa-gesa. Jangan menggunakan istilah-istilah yang dapat membuat mereka mundur, seperti penakut, karena akan membuat mereka merasa terpojok dan defensif.

Kesimpulan

Edukator yang menggunakan ular, baik sebagai representasi dari hewan-hewan di alam ataupun sebagai materi inti, memiliki kesempatan yang sangat besar untuk mengatasi ketakutan dan belajar fakta yang sebenarnya untuk menggantikan mitos. Dengan menggunakan ular, edukator memberikan kesempatan yang besar bagi para peserta didik untuk melihat dan berkenalan dengan hewan yang merupakan salah satu hewan kunci dalam ekosistem yang seimbang. Keberlangsungan ular, dapat diartikan juga keberlangsungan manusia. Dan juga, memberikan pengalaman baru bagi banyak orang untuk berinteraksi dengan ular.

[idur] — Ditulis pada tahun 2012
https://medium.com/@rudyrahadian/bagaimana-mengajarkan-anak-anak-tentang-ular-253f95acfdeb#.ft5r6uacq